Jumat, 02 April 2021

Minoritas suku Madura di mayoritas suku jawa

Assalamualaikum Temen teman, bertemu lagi dengan saya Aiman. Pertama saya ucapkan terima kasih untuk semua yang telah membaca artikel ini semoga selalu bahagia amin. Saya Nurul Aiman mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi, saya menulis ini untuk memenuhi tugas kewarganegaraan. Baiklah di artikel kali ini saya akan membahas tentang kelompok minoritas, nah sebenarnya apasih minoritas itu? Minoritas adalah golongan sosial yang jumlah warganya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan golongan lain dalam suatu masyarakat dan karena itu didiskriminasikan oleh golongan lain. Tetapi kita tidak boleh seenaknya sendiri kepada masyarakat minoritas karena sudah ada Perlindungan hukum terhadap hak asasi kelompok minoritas di Indonesia diatur dalam Pasal 28 D dan Pasal 28 I Undang-Undang Dasar 1945, serta tercantum juga di Pasal 3 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM. Sedangkan Pasal 27 Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik (International Covenant and Political Rights) yang telah diratifikasi dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 mengatur bahwa kelompok minoritas tersebut harus diakui berbagai haknya. Disini saya tidak sendirian karena ditemani oleh saudari Abir yang tinggal di pelosok selatan daerah saya. Di daerah saya bermayoritas atau besar penduduknya dari suku Jawa tetapi di daerah selatan atau pelosok pelosok desa selatan terdapat penduduk dari suku madura, jadi di dalam satu daerah terdapat dua suku dan bahasa yang berbeda tetapi mayoritas besarnya adalah suku Jawa, bagaimana anggapan orang suku Jawa terhadap suku Madura yang tinggal satu daerah? Dan sebaliknya. Langsung saja kita akan bahas sambil bercerita di sini, suku Jawa di daerah saya sangat banyak dan memang bermayoritas suku Jawa hampir seluruh tetapi di ujung selatan ada dusun yang ber suku Madura bahkan sampai ada dusun terpencil yang harus melewati sungai, sawah, ladang dan itupun jalannya sangat tidak layak menurutku. Di dusun itu seluruh penduduknya menggunakan bahasa Madura dan saya sendiri tidak bisa menggunakan bahasa Madura jadi saya memutuskan untuk tidak mewawancarai orang di sana. Langsung saja saya beralih ke dusun yang tidak lumayan pelosok dan disini ditemani saudari Abir seorang mahasiswa yang tinggal di salah satu dusun ber suku Madura. Dia seorang mahasiswa jadi saya bisa menggunakan bahasa Indonesia untuk berwawancara. Kata saudari Abir dirinya sering merasa di bedakan karena ber suku Madura, dia menceritakan keluh kesah mulai dari suku, bahasa dan penampilan. Yang pertama dia merasa kalau sering di anggap remeh oleh suku Jawa dan setiap apapun selalu di anggap di bawah suku jawa. Dan menurut saya sendiri memang benar dan saya mengetahui saat masih di bangku sekolah karena siswa dari suku Madura di anggap paling bandel dan nakal oleh guru guru padahal tidak semuanya begitu, sering di anggap remeh dalam segala hal. Saudari Abir berpikir seperti itu karena memang terjadi nyata bukan hanya di sekolah saja tetapi di luar sekolah juga. 


Yang Kedua saudara Abir bukan merupakan anak dari suku Madura asli,  karena Abir sendiri seorang anak yang ibu dari suku Madura dan ayah dari negara Arab Saudi tetapi saudari Abir tinggal di daerah Rembang tepatnya di pelosok selatan yang termasuk minoritas suku Madura. Tetapi dia sangat bangga akan suku Madura dan dia kerap menggunakan bahasa Madura di sekolah ataupun di lingkungannya. Karena dia meyakini bahwasan nya dari manapun kita berasal tidak ada yang pantas untuk di hinakan karena semuanya sama saja.Dia sendiri juga yakin kita semua menikmati proses dari orang terdahulu. Suku Madura di kenal memiliki sifat atau karakter keras, kuat dan garang tetapi kata saudari Abir yang membuat miris adalah ketika ada kejadian kekerasan atau kriminal seperti begal perampokan dan lain lain orang suku Jawa sering mengait ngaitkan nya dengan suku Madura. Dan masih saat ini saudari Abir masih bingung kenapa dan atas dasar apa orang suku Jawa selalu menyalahkan atau selalu mengaitkannya dengan orang Madura.


Selanjut nya saudari Abir bercerita kepada saya bahwasannya suku Madura memang mengakui kalau mereka banyak tertinggal jauh dengan orang orang yang berada di suku Jawa maupun sekitarnya, tetapi bukan berarti orang dari suku Madura tidak ingin berpakaian stylish dan mengikuti trend modern tetapi kebanyakan orang dari suku Madura nyaman dengan pakaian yang sederhana dan sering di sebut norak oleng orang suku Jawa di daerah saya. Tetapi kata saudara Abir tingkat kebahagiaan orang itu berbeda beda mungkin alasan suku Madura tidak mengikuti trend karena mereka sudah nyaman dengan pakaian yang sederhana. Orang suku Jawa cenderung senang dan bahagia jika mengikuti trend atau style yang modern sedangkan orang suku Madura masih tetap menggunakan pakaikan yang sederhana.


Sekian artikel dari saya dan saudari Abir. untuk para pembaca terima kasih yang sebesar besarnya. Jika ada kekurangan kata saya mohon maaf yang sebesar besarnya, sekian wasalamualaikum wr wb 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar